Rabu, 17 September 2014

Andai



Senja masih merona, bahkan nyiur kelapa masih menunjukan lambaiannya pada semesta. Namun, kehidupan memang tak selalu seindah formasi burung bangau yang melintasi lautan lepas.
Tubuhnya terlihat kaku terhempas sepoi angin laut. Dipererat simpul syal merah muda yang melingkar di lehernya, “Pffftt......” Gadis itu menghela nafas panjang, kemudian beranjak pergi meninggalkan bibir pantai dengan kursi rodanya.
Di dalam sebuah apartemen, gadis itu mematutkan diri di depan cermin, air mata mulai meleleh membasahi kulitnya yang kering keriput. Sejenak ia terdiam, menundukan kepala, kemudian terlelap.
***
5 tahun yang lalu, Naya seorang gadis baru gede yang mulai mencari jati diri. Wajahnya cantik, perawakannya tinggi semampai, tak heran jika banyak agency modeling yang meliriknya untuk memotret tiap pose dan senyum menawan Naya. Singkat kata, kini Naya menjadi seorang model baru. Wajahnya menghiasi sampul majalah-majalah keluaran terbaru.
Sayang, kehidupan sosialnya tak secemerlang karir yang di geluti Naya, banyak saingan yang berusaha menjatuhkannya, bahkan perlahan semua teman terdekat Naya mulai menjauh. Tidak hanya itu, kedua orangtuanya yang semakin sibuk dengan pekerjaan masing-masing, membuat dunia Naya semakin sepi.
Hari-harinya dihabiskan untuk pemotretan dan sekolah, semakin lama kondisi Naya makin menurun karena kesibukan yang memaksanya untuk beraktifitas tanpa istirahat. Akhirnya, Naya sampai pada fase jatuh sakit. Tubuhnya lemah, namun tak ada seorangpun yang merawatnya. Pada keadaan itu Naya mencoba menghubungi seorang temannya, “Hallo, aku sedang sakit. Bisakah kamu kerumahku sekarang?” Dari sambungan telepon seorang lelaki menjawab, “Oke, aku kesana 10 menit lagi”
10 menit kemudian seorang lelaki berusia 20-an memasuki kamar Naya, “Hei Naya, ada apa denganmu?” Sapanya sambil mendekat ke arah Naya.
“Aku demam” Jawabnya lirih,
“tolong antarkan aku ke dokter, mama dan papaku sedang sibuk” Lanjutnya.
Sejenak lelaki itu mengernyitkan dahi, kemudian tersenyum, “Naya, jangan ke dokter! Pasti dokter akan menyuruhmu opname, nanti kamu jadi tidak bisa bekerja kan!” Ujarnya.
“Tapi aku benar-benar sakit, ku mohon!” Naya tampak memelas.
Lelaki itu terlihat merogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya, kemudian mengeluarkan sebuah plastik kecil berisi bulatan-bulatan putih, “Kamu minum obat saja, nanti pasti sembuh!” Lelaki itu menyodorkan sebuah plastik kecil berisi 3 butir obat berwarna putih.
“Tapi...Aku tidak terbiasa minum obat tanpa resep dokter” Kata Naya menolak halus obat pemberian lelaki itu.
“Tenanglah, ini hanya suplemen untuk menambah prima tubuhmu, tidak perlu resep dokter” Lelaki itu meyakinkan Naya dan membimbingnya untuk meminum obat tersebut.
Setelah minum obat tubuh Naya terasa ringan dan perlahan ia mulai tertidur. Keesokan harinya Naya telah kembali sehat, “Wah, suplemen pemberian Kak Romi kemarin benar-benar bekerja dengan baik” Gumam Naya sumringah.
Hari berganti hari, Naya makin sering merasa kelelahan, makin sering pula mengonsumsi obat yang sejatinya tidak pernah dia ketahui obat apa. Perlahan uang tabungan yang susah payah ia kumpulkan terkuras habis untuk membeli obat-obatan itu. Suatu hari, tiba-tiba tubuh Naya mengejang saat melakukan pemotretan, tingkahnya tak karuan, bola matanya berputar-putar, semua crew yang ada tampak panik. Romi segera mendekat dan menyuntikan cairan kedalam tubuh Naya, setelah itu Naya kehilangan kesadarannya.
Kian lama Naya semakin lemah, sakit sedikit saja tak mampu beranjak dari pembaringannya hari-harinya makin gelisah, diam-diam Naya pergi ke Singapura. Awalnya ia hanya berniat untuk menyegarkan fikirannya yang tak karuan karena kondisi tubuhnya yang dirasa berubah itu , namun malang tak dapat di tolak, setibanya di Singapura Naya malah jatuh sakit dan mau tak mau ia harus berlibur di rumah sakit.
Seminggu berada di rumah sakit, bagai peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga, dokter mendiagnosa Naya telah positif sebagai pengidap AIDS dan pengguna narkoba. Mendengar statement dokter tersebut, Naya langsung menolaknya mentah-mentah, “Tidak mungkin! Saya tidak pernah menggunakan narkoba! Saya tidak pernah berhubungan badan dengan siapapun! Tidak mungkin saya terkena AIDS! Dokter pasti salah! Dokter berbohong pada saya!” Teriaknya sambil bercucuran air mata.
***
Suara seorang wanita muda berpakaian suster terdengar membucahkan kesunyian di dalam sebuah kamar apartemen yang menghadap langsung ke muka laut. Wanita itu meletakan sebuah nampan berisi makanan di meja kecil di samping sebuah mini bed  yang tertata rapi. Kemudian berjalan kearah tubuh yang tertidur di depan meja rias, sejenak wanita itu mengernyitkan dahi, menyentuh tubuh itu, “Ya Tuhan, dia telah mati!”

Minggu, 07 September 2014

Bagaimana perasaanmu?


Bagaimana perasaanmu?

Jika kau mengetahui apa yang seharusnya tidak usah kau ketahui, melihat apa yang seharusnya jangan kau lihat, mendengar apa yang sebaiknya tidak kau dengar.
Mendapati sebuah senyuman di hadapanmu yang kamu jelas tahu bahwa itu PALSU, mendengar kata-kata manis yang sejujurnya itu racun yang dapat membunuhmu, mendapat bertubi-tubi kebaikan yang kau tau bahwa itu lubang buaya yang sebaiknya jangan kau dekati.
Hatimu seringkali memberontak, mengatakan “ JANGAN BIARKAN DIRIMU TERSAKITI “ “ BICARALAH “
Berjuta gejolak terasa ingin meledak dari dalam dirimu ketika kau mengerti sebuah kebohongan di arahkan kepadamu, terasa seperti jutaan voltase listrik menyengat dadamu. Sungguh, kau ingin sekali marah, tapi kau lebih memilih diam dan menganggap semuanya baik-baik saja.
Memilih diam dan tersenyum seolah kau tak mengerti apa-apa, hanya karena kau merasa “ AKU INGIN SEPERTI ORANG NORMAL LAINNYA “
Lantas, apanya yang tidak normal darimu? Sungguh kau sangat istimewa, kau berbeda dengan kebanyakan orang lainnya!
Kurang sayang apa Tuhan kepadamu? Tuhan telah menganugerahkanmu apa yang tidak orang normal lain miliki. ANUGERAH, kau tau ANUGERAH? ANUGERAH adalah apa yang orang normal lihat, bukan apa yang aku lihat.
Apa yang orang normal lihat itu anugerah adalah musibah bagiku.
Mengetahui apa yang seharusnya tidak usah kau ketahui, melihat apa yang seharusnya jangan kau lihat, mendengar apa yang sebaiknya tidak kau dengar.
Kadang aku berharap, andai setiap orang memiliki anugerah yang sama untuk bisa mengetahui apa yang orang lain rasakan, apa yang orang lain sembunyikan dari mereka.
Mengerti setiap kebohongan dan kepalsuan yang di tujukan kepada mereka, akankah mereka bahagia karena bisa tahu segalanya? Atau malah depresi karena tak dapat berbuat apa-apa.
Andai saja kau tahu semua rasa sakitku, Bagaimana perasaanmu?



Rabu, 16 Juli 2014

JANGAN MENATAP KEDUA BOLA MATA INI (2)

Cahaya mata itu kembali berpendar. Sesekali ia mencuri pandang ke arahku, kemudian tertunduk malu.
Hari ini, ia telah sah menjadi istriku. Mata yang indah itu adalah miliku. Kedua bola matanya terlihat bersinar. Hanya sekali sebutir air mata tercurah ketika pelafalan ijab qobul. Aini benar-benar cantik. Siapapun tak akan menyangka jika Aini 'cacat'. Ketika tiba saatnya kami berdua, ku belai tubuhnya. Jemarinya terasa dingin menggenggam telapak tanganku. " Abi, aku tidak cantik. Kau tau mataku buta, jangan engkau menyesal telah mempersuntingku " tuturnya lembut sambil melekatkan tubuhnya ke dadaku.
" Kau sempurna seutuhnya ya habibi, aku tak akan menyesal telah menikahimu " ku belai ujung kepalanya.
Aini hanya terdiam di pelukanku. Mungkin dia lelah, atau mungkin dia sedang memikirkan 'sesuatu'.
***
keluargaku sempat tidak setuju aku menikah dengan Aini. " Bagaimana seorang wanita yang tidak bisa melihat dapat melayani suaminya? " geram saudaraku.
Aku sempat terdiam, tak kuasa melihaw wajah Aini yang memerah. Cahaya matanya kembali meredup, bersiap menumpahkan seluruh air matanya.
" Aku menikahinya bukan untuk kujadikan pelayanku. Tapi ku nikahi dia untuk kujadikan pendamping hidupku dan langkahku menuju surga " ku bimbing Aini keluar dari rumahku, Aini benar-benar menangis. Aku telah melukai perasaannya.
***
cukup lama kami terdiam dalam kesunyian, hanya hembus nafas dan detak jantung kami yang beradu berirama. " Sayang "
Aini mendongakkan kepalanya menatapku " Iya abi? " suaranya bergetar memacah kesunyian.
" Apakah sekarang aku sudah boleh melihat hak ku? "
Aini terlihat tertunduk malu. " Boleh kah sayangku? " ucapku sembari tersenyum, meyakikan bahwa aku akan menjaga dirinya seutuhnya.
Kepalanya mengangguk, ku arahkan tanganku ke kain itu dan membukanya perlahan.
Subhanallah, sungguh keagunganmu menciptakan hamba-hambamu dengan kecantikan yang luar biasa.
" Kamu sungguh sangat cantik Aini, kini kamu boleh tidak memakai cadar ini di hadapan suamimu. Tapi kamu harus selalu memakainya saat kamu bepergian. Wajahmu ini hak suamimu, jangan kau perlihatkan pada lelaki lainnya "
ku kecup lembut keningnya dan membelai pipinya yang tembam.
Kedua bola mata itu kembali bersinar, kini aku bisa melihat senyum di bibirnya :)

Minggu, 04 Mei 2014

KORUPSI, Satu Kata Berjuta Makna


Korupsi, siapa diantara kita yang tidak mengenal korupsi? hampir setiap harinya kita mendengar kata ini. Di layar televisi membahas korupsi, di koran-koran membahas korupsi, hampir semua media cetak dan elektronik acap kali menayangkan hal-hal yang berbau korupsi, dan money politik lainnya.
Apalagi sekarang ini sedang maraknya pesta demokrasi yang masih ada sangkut pautnya dengan korupsi juga. Pemerintah korupsi, sekolah dan intansi lainnya korupsi, caleg korupsi, semua petinggi dan pejabat korupsi, perusahaan-perusahaan korupsi, pelajar korupsi, guru-guru korupsi, para pedagang korupsi, lantas Anda. Apa Anda juga melakukan korupsi?
Jadi, sebenarnya apa itu korupsi? Banyak dari kita orang awam yang belum paham betul apa itu korupsi, yang kita tahu hanya DPR dan yang lainnya yang terjerat kasus korupsi, yang memiliki omset miliaran bahkan triliunan rupiah yang bukan berasal dari gaji mereka. Kalau bukan dari gaji? Lalu darimana munculnya uang itu? apakah korupsi hanya sebatas tentang uang yang di selewengkan?
Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia korupsi adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang di kuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Jadi menurut pengertian di atas, apa hanya pejabat publik yang melakukan korupsi. Apakah orang awam sepenuhnya bebas dari korupsi?
Belajar dari permasalahan, korupsi memiliki berjuta makna. Layaknya yang kita lihat setiap hari, korupsi bisa berarti keserakahan. Misalnya pejabat, petinggi, politisi, dan pegawai negeri yang mersa kurang dengan dengan gaji mereka yang sebenarnya bisa dibilang cukup jika di bandingkan dengan pegawai bawah lainnya. Korupsi juga bisa berarti kemalasan, seperti guru-guru yang korupsi jam pelajaran siswanya dengan datang terlambat karena malas mengajar, pada akhirnya mereka makan gaji buta. Apa hanya guru yang korupsi? Tentu tidak, siswapun juga dapat melakukan korupsi. Malah sangat banyak pelajar di negara kita yang melakukan korupsi, percaya atau tidak inilah kenyataan yang terjadi.
Awal mulanya seorang siswa memasuki jenjang sekolah dasar, orang tua yang ambisius ingin anaknya masuk ke sekolah favorit sedangkan anaknya sendiri membaca dan berhitungpun tak bisa. Mulai dari situ orangtua mati-matian melakukan berbagai cara agar anaknya dapat diterima di sekolah yang orangtua inginkan. Ratusan ribu hingga jutaan mereka keluarkan untuk membeli bangku sekolah. Hal itupun berulang lagi di jenjang SMP, SMA, Perguruan Tinggi, bahkan sampai dalam tingkatan pekerjaan. Tapi ternyata tidak hanya sampai di situ, disaat sudah memasuki sekolah kecurangan kembali terjadi, dan lagi-lagi karena orangtua yang terlalu berambisi, demi selembar kertas piagam bertuliskan nama anaknya sebagai bintang kelas para orangtua rela merogoh isi dompet untuk membeli nilai, betapa mirisnya negara kita jika ternyata di balik nama-nama berprestasi ternyata hanya sebatas permainan uang. Tapi, korupsi siswa tidak selalu berkaitan dengan uang, mencontek dan membolos juga bisa dibilang korupsi.
Jika kita lihat dari perjalananya, sebagian besar korupsi di dominasi berasal dari kebiasaan sedari dini, meskipun tidak semuanya seperti itu. Ada yang memang mereka melakukan korupsi karena keadaan gaya hidup yang menuntut mereka melakukan korupsi. Tapi apapun alasannya korupsi tetap saja merugikan lebih banyak bihak daripada yang di untungkan.
Sebagai generasi penerus bangsa, sudah seharusnya kita MENOLAK TEGAS kata korupsi, sedari kecil kita harus menanamkan pada diri kita tentang kejujuran, karena dimana saja yang namanya korupsi tidak ada yang jujur. Berawal dari satu kebohongan kecil dan berlanjut di kebohongan-kebohongan kecil lainnya.
Selain itu peranan orangtua dalam keluarga juga penting dalam pembentukan karakter calon generasi penerus bangsa, tidak seharusnya orangtua memaksakan anaknya demi ambisi pribadi karena itu akan cenderung mengganggu perkembangan psikologis anak, anak-anak akan cenderung malas berusaha. Toh orangtuanya masih mampu membiayai, selama ada uang apapun bisa di beli, apapun bisa di penuhi. Hal ini akan membuat manusia-manusia di perbudak oleh uang, dan lantas melakukan korupsi. Di luar hal itu bukan berarti jika orangtua tak pernah memaksakan berarti kita bisa santai tanpa berusaha. Jika kita ingin maju, jika kita ingin merubah kehidupan kita, merubah nasib kita, merubah negara kita, kita tetap HARUS BERUSAHA. Percayalah, tak ada orang yang tidak bisa. Yang ada hanya mereka yang tak mau berusaha. Kita bisa menyejahterakan diri kita sendiri tanpa harus bergantung dan merugikan pihak lain. Dengan terus berusaha dan berdoa kepada Tuhan, niscaya apapun tujuan kita pasti terlaksana. Hanya dengan kesungguh-sungguhan dan PERCAYA Tuhan akan mengabulkan setiap doa kita. Dalam sebuah hadist di tuliskan “ Aku adalah apa yang hambaKu sangkakan “
Kita tidak perlu iri dengan apa yang orang lain miliki, hidup dengan apa yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, selalu merasa bersyukur akan menghindarkan kita dari keserakahan yang akan menjerumuskan kita ke lembah korupsi.
Andaisaja setiap orang yang telah melakukan korupsi mengerti apa yang telah mereka lakukan, pasti mereka tidak akan melakukannya. Coba kita lihat di sekeliling, orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, jangankan tempat tinggal untuk mencari sesuap nasi saja belum tentu mereka bisa makan setiap hari. Di lain tempat, coba lihat para koruptor yang hidup bergelimang harta, uang dan aset di mana-mana, untuk makan 24 kali seharipun tak akan habis 7 turunan. Bahkan koruptor yang sedang menunggu masa hukuman masih bisa memakai pakaian mahal, menikmati kamar berpendingin ruangan, bahkan menggunakan smartphone dan televisi layar datar.
Bandingkan ! Untuk kebahagiaan 1  orang saja, merekatelah membunuh ribuan jiwa di luar sana yang tidak dapat makan dan memenuhi gizinya, yang tidak memiliki biaya untuk menyembuhkan penyakitnya, dia merusak masa depan anak-anak yang tidak bisa menuntut hak pendidikannya, mereka bersenang-senang diatas tangisan berjuta rakyat diluar sana. Mereka tidur di atas kasur kapuk disaat yang lainnya tidur di bawah langit-langit di temani dinginnya angin malam berkasurkan kardus bekas atau tidak sama sekali, mereka bekerja di kursi empuk meja direksi disaat yang lainnya bekerja di bawah teriknya sinar matahari dan oksigen yang tercemari polusi. Mereka menghamburkan uang untuk hal yang tak berguna disaat yang lainnya bersusah payah mengais recehan untuk menyambung hidupnya.
Jadi bagaiman Pak Presiden jika para koruptor di hukum mati saja? Lebih baik membunuh seorang daripada membunuh lebih banyak orang lagi di negara ini.
Dan untuk para koruptor yang mengajukan banding atas hukuman yang tidak seberapa, apa tidak malu? Telah jelas mencuri, jelas membunuh, jelas melakukan penyiksaan tapi tak ingin mendapatkan hukuman yang setimpal? Berkacalah, dan belajar melihat di sekeliling kalian. Masih banyak orang yang kurang beruntung yang lebih berhak menerima bantuan daripada kalian.
Sadarlah Bangsa Indonesia, apa kita ingin terus berada pada keadaan ini?
Mari kita renungkan masing-masing apa yang telah kita perbuat dan memperbaiki segala kesalahan di masa yang lampau, mari kita bawa negara ini mejadi negara yang lebih, lebih, dan lebih baik dari sebelumnya.

Jumat, 25 April 2014

Hai hai... :D
kali ini aku akan share novel yang recomended banget deh buat di baca, dijamin renyah dan gurih *eh (?)

Novel berjudul Still karya Esti Kinasih ini dijamin bikin semuanya jedug-jedug dan penasaran
oke, pertama sebelum aku upload novelnya pertama aku mau nulis resensi bukunya dulu.

Nah, ini dia cekidott....

Judul       : Still
Penulis    : Esti Kinasih
Genre      : Novel, Fiksi, Chicklet, Teenlet
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Bahasa     : Indonesia
Halaman : 224

Sinopsis

*Lanjutan dari CEWEK!!!*Bima---si cowok macho yang suka panjat gunung---emang terkenal playboy, suka mengintimidasi, dan posesif. Kalau udah naksir cewek, dia langsung ngajak jalan. Nggak peduli tuh cewek naksir dia atau nggak. Dan tanpa bilang cinta, Bima menyatakan Fani sebagai pacarnya.Fani menerima Bima karena terpaksa. Tapi ketika rasa tertekannya udah di puncak, dia minta putus dari Bima! Jelas Bima nggak mau ngelepas Fani, tapi Fani ngotot.Di saat Fani bebas merdeka, Bima patah hati. Di saat Fani nemuin gebetan baru, Bima merenung. Cowok itu sok tegar, sok baik-baik aja, sok memegang prinsip pantang bilang cinta, padahal hatinya sakit.Sebenarnya Bima nggak sepenuhnya melepas Fani. Fani juga nggak benar-benar membenci Bima. Ketika di suatu siang Bima ketemu cewek itu, Bima nggak sanggup menutupi kata hatinya."Aku cinta kamu, Fan. Sekarang. Mudah-mudahan sampai nanti...."Di dunia penulisan novel Teenlit, nama Esti Kinasih punya "kekuatan" di hati penggemarnya. Gaya bahasanya yang lincah, serta kisahnya yang romantis dan seru, menjadi pemikat utama.STILL... merupakan kelanjutkan kisah CEWEK!!! yang sudah ditunggu-tunggu pembaca.
Nah, udah penasaran baca novelnya ? Klik disini http://id.scribd.com/doc/220386246/Still
happy reading :))
 

















































                                   

Minggu, 02 Februari 2014

Jangan Menatap Kedua Bola Mata Ini


Belum lama aku memperhatikannya. Seorang gadis bercadar dengan mata yang indah. Bola matanya berwarna kecoklatan yang menandakan dia juga orang asia. Tapi akhir-akhir ini aku baru tahu kalau dia penyandang tuna netra. Aku menyadarinya ketika dia hampir tertabrak sebuah mobil beberapa hari yang lalu. Aku melihat cahaya matanya meredup, meskipun dalam keadaan menunduk. Sungguh, aku ingin menolongnya ketika pengendara mobil itu memaki-maki dirinya. Tapi niatku terhalang oleh hukum di negara minyak ini, dimana haram hukumnya orang asing ikut campur kedalam urusan orang lain meskipun itu bertujuan baik. Mengganggu privasi katanya.
Sore itu aku bertemu lagi dengannya. Gadis bercadar dengan mata yang indah. Tapi, kenapa dia ada di sini? Inikan perpustakaan?
Karena penasaran aku berjalan ke arahnya dan menyapa, "Assalamu'alaikum ya ukhti"
Gadis itu mengarahkan pandangannya padaku sambil menjawab salamku, "Wa'alaikumsalam warrahmah ya akhi, pasti orang indonesia ya?" wiih, dia bisa bahasa indonesia, dan yang lebih mengejutkan dia tau aku orang indonesia, "Iya, saya orang indonesia. Kok kamu tau?" tanyaku penasaran
"Kedengeran dari suaramu" jawabnya sambil meraba-raba sebuah buku yang terlihat tebal
"Bolehkah saya duduk disini?" tanyaku lagi
gadis itu hanya menganggukkan kepala dan menggeser duduknya cukup jauh dariku.
Kamipun banyak berbincang-bincang. Gadis itu bernama Aini, yang dalam bahasa arab berarti `mata`. Aini sudah hampir 10 tahun ini tinggal di saudi, "Kamu tak pernah pulang ke Indonesia? Apa kamu tak rindu dengan keluargamu disana?"
"Kedua orangtuaku sudah meninggal sejak aku masih sangat kecil, aku seorang yatimpiatu, aku sebatangkara. Lagi pula aku tidak suka di Indonesia!"
"Kenapa?"
"Mereka mengaggap aku cacat sehingga mereka memperlakukan aku dengan berbeda"
Sejenak aku berfikir, bukankah benar kalau dia `cacat` ? Seperti menangkap kegelisahanku, Aini berkata, "Jangan memandang kedua bola mata ini,aku memang buta,tapi aku bisa melihat,hatiku tidak buta" butiran kristal bening mulai meleleh dari kedua bola matanya dan menyesap ke cadar yang dia pakai, "Walaupun aku cacat, aku bisa melakukan semuanya sendiri seperti orang normal. Aku tak mau merepotkan orang lain kok. Aku juga seperti kalian" Aini mengeluarkan kartu pengenalnya dan menyodorkannya padaku, "Lihat ini"
Subhanallah, Aini adalah seorang sarjana hukum. Meskipun dengan keterbatasan yang dia miliki. Subhanallah..
"Gelarku tak berarti karena aku seorang tuna netra. Di mata mereka aku tetap orang yang rendah, sehingga aku memilih untuk tidak pulang ke indonesia"
sejenak kami berdua terdiam, berkutat dengan fikiran kami masing-masing. Aku benar-benar tersentuh mendengar cerita Aini. Dia adalah sosok wanita yang sangat kuat. Mungkin lebih dari itu, kurasa.
"Aini" ucapku lirih seraya memecah kesunyian
"Ya?" dia menoleh ke arahku
"Apa kau mau pulang ke Indonesia bersamaku?"
"Maaf?" dia terlihat sedikit bingung
"Aku ingin mempersuntingmu, aku akan melindungimu. Maukah kau pulang bersamaku?"
"Kamu tidak bercanda?apa kamu tidak tahu kalau aku ini buta?" tanyanya sedikit keheranan
"Aku tau Aini, karena aku bisa melihat, tapi aku tak akan memandang kedua bola mata itu. Aku hanya akan melihat hatimu yang juga melihatku"
Aini terlihat tertunduk malu, kedua bola matanya kembali memancarkan cahayanya. Kedua mata yang indah, kedua mata yang tak berdosa, kedua mata yang tak pernah melihat apa yang tidak sepantasnya dilihat. Seorang gadis bercadar dengan mata yang indah


Jumat, 10 Januari 2014

Bunga Terakhir

“Re, makasih ya. Bunganya cantik, aku suka“ Ucapku sambil merebahkan kepalaku di pangkuan Re, terlihat Re tersenyum dan mengusap rambutku yang tergerai, “Sama-sama sayang, aku sangat mencintaimu“
***
Pagi ini kepalaku terasa sangat berat, Ya Tuhan apa yang terjadi denganku. Aku berusaha memanggil mamaku tapi percuma, mulutku tak mampu lagi bersuara. Darah segar mengalir dari lubang nafasku dan kepalaku terasa sangat berat. Tak lama kemudian aku sudah tak bisa mengingat apa-apa.
Aku merasa tertidur sangat lama, hingga aku tersadar dan mendapati selang kecil di pergelangan tanganku. Mataku menyusuri seluruh ruangan ini, dimana aku? Ini bukan kamarku. Tak lama kemudian aku merasa pintu ruangan ini terbuka, samar-samar aku melihat mama. Ya itu mama, mama berjalan cepat ke arahku dan air mata tampak bergulir dari kedua bola matanya yang indah. Mama menangis, kenapa? Sejuta pertanyaan terasa menyesak di kepalaku. Rasanya kepalaku ingin meledak, seketika tubuhku mengejang. Aku tak tau apa yang terjadi pada diriku, hingga terasa sebuah jarum suntik mesuk ke dalam dagingku dan tubuhku terasa dingin, sangat dingin. Ma, aku kedinginan. Aku ingin menangis tapi air mataku tak bisa mengalir, lama kelamaan pandanganku semakin gelap. Hingga aku terlelap lagi dalam tidur yang aku tak tau sampai kapan aku akan bangun lagi.
***
Kanker? Apa itu? seumur hidup sungguh aku tak ingin mengenal kata-kata itu. Kanker, dia yang sudah merenggut nyawa papa. Dia yang sudah merenggut semua kebahagiaanku, dan sekarang penyakit itu bersarang di dalam tubuhku, tepat di kepalaku. Ya Tuhan.. Apa dosaku hingga aku mendapat penderitaan seperti ini, aku benci kanker. Aku tak ingin dia hadir sebagai teman baruku.
Seharian aku menangis, walaupun kepalaku terasa sangat sakit. Kata dokter mungkin nyawaku tinggal menghitung hari, kenapa begitu cepat aku harus pergi dari dunia ini. Apa aku tak pantas bahagia?
Beberapa minggu yang lalu, Re menyatakan cintanya padaku. Sungguh aku sangat bahagia, mungkin itu kebahagiaan pertama dalam hidupku. Dan kebahagiaan terakhir kurasa. Aku tak tahu apa yang harus ku katakan pada Re nanti.
Kini mataku tertuju pada sekuntum mawar merah yang ku letakkan di dalam gelas di atas meja belajarku. Aku bangkit dari kasurku dan duduk di depan meja belajarku. Mataku menatap lekat pada mawar itu, aku masih bisa mengingat betapa indahnya malam itu. aku masih bisa melihat senyum Re, “Re, sebentar lagi aku akan pergi“ Ucapku lirih di iringi dengan air mataku yang terjatuh. Re tidak boleh tahu tentang ini semua, Re tidak boleh tahu tentang penyakitku. Tuhan.. beri aku waktu hingga helai terakhir mawar ini terjatuh. Aku ingin bahagia sebelum aku meninggalkan dunia ini.
***
Aku terbangun dari tidurku pagi ini, sungguh aku sangat bahagia karena aku masih bisa membuka mataku. Ku lihat helai pertama kelopak bunga mawar itu mulai terjatuh. Wajahku tertunduk lesu. Aku segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan diriku. Selesai mandi aku mematut diriku di depat cermin, wajahku nampak begitu putih. Entahlah, pucat atau memang kulitku yang berwarna putih karena aku adalah keturunan chinese. Pelan ku sisir rambutku yang panjang tergerai, Ya Tuhan rambutku rontok sangat banyak. Penyakit nakal !! Dia merenggut keindahanku. Sejenak aku terdiam, kemudian aku bangkit dan menggunakan topi rajut di kepalaku. Ku lingkarkan syal warna ungun di leherku dan mulai keluar dari kamar.
“Mau kemana Chi?“ Tanya mamaku keheranan melihatku
“Mau jalan-jalan Ma, bosen di kamar terus“
Mama berjalan mendekat ke arahku dengan pandangan khawatir, “Tapi Chi...“
Belum selesai mama bicara aku sudah memotong ucapan mama, “Chilla mau keluar sama Re Ma, itu dia Re. Mama gak usah khawatir ya“ Aku mencium pipi mama dan berjalan ke arah Re.
Sudah lama aku tak berjumpa dengannya, Re tampak sangat tampan dengan setelan jeansnya, “Hai Re“ Sapaku ramah
Kemudian kami berjalan-jalan ke taman kota, kelihatannya Re sudah menangkap perubahan dariku, “Chi, tanganmu dingin banget“ Ucapnya yang kala itu sedang menggenggam telapak tanganku
“Aku kedinginan Re“ Jawabku datar
Seketika Re memeluk tubuhku erat, “Biar kamu hangat sayang“ Bisiknya lembut di telingaku, “Terimakasih Re“
***
Hari demi hari berlalu helai-helai bunga mawar itu mulai terjatuh hingga tersisa sehelai di tangkainya. Entah kenapa aku merasa ini adalah hari terakhirku di dunia ini. Aku menghubungi Re untuk bertemu malam ini. Melihat pesta kembang api di taman kota.
Malam harinya aku sudah melihat Re di depan pintu rumahku, seperti biasa aku menggunakan topi rajut untuk meutupi kepalaku yang mulai botak. Dan kami berjalan menuju taman kota. Disana aku memilih untu duduk di sebuah bangku taman yang cukup jauh dari keramaian. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Re.
“Re, lihat deh bintang di langit sana“ Kataku pada Re
“Iya sayang,indah ya. Kayak kamu“ Jawab Re sambil merangkulkan lengannya ke bahuku
“Ah, kamu gombal“ Jawabku sambil sedikit mencubit pinggangnya dengan kekuatan yang masih tersisa di tubuhku, dia tampak kesakitan dan aku hanya tertawa geli
“Re, bintang-bintang itu terkadang terlihat bersinar sangat terang dan terkadang tak nampak sama sekali karena tertutupi oleh awan. Tapi walaupun mereka tak nampak, tapi mereka tetep ada di langit dan setia menemani sang malam“
“Re, aku seperti bintang-bintang itu. ketahuilah, meskipun aku tak terlihat lagi nanti aku tetap ada disini Re. Di hatimu“ Lanjutku
Seketika Re langsung tersentak mendengar ucapanku, “Kamu jangan ngomong gitu dong Chi“ Dia menatapku begitu dlam. Aku hanya bisa tersenyum dan memeluknya erat, “Re, aku sangat mencintaimu“ Tak berselang lama kepalaku kembali terasa berat, tubuhku menggigil, dan darah segar itu mengalir dari hidungku. Perlahan pelukanku merenggang, pandanganku sudah kabur. Aku melihat Re yang begitu panik. Aku tak dapan berbuat apa-apa lagi. Sampai akhirnya seluruh pandanganku menjadi gelap.
***
Helai terakhir bunga itu telah terjatuh, hari ini aku merasa berada di sebuah tempat yang sangat indah. Disini aku bertemu dengan papa, papa mengajakku berkeliling dan aku sangat bahagia. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan papa, papa berkata padaku bahwa sebentar lagi aku akan tinggal disini. Aku mearasa sangat senang, tapi entah kenapa aku teringat pada mama, aku teringat pada Re. Air mataku meleleh. Aku belum ingin pergi meninggalkan mereka.
Setelah beberapa hari mengalami koma, akhirnya aku bisa juga membuka mataku. Ku lihat Re sedang tertidur di pinggir tempat tidurku. Aku mengusap kepalanya dan dia terbangun, “Chilla“ Dia langsung memelukku dan menangis sejadinya, “Kenapa kamu gak jujur sama aku Chi ? Kenapa kamu gak bilang kalo kamu sakit?“ Ianganku berusaha menghapus air matanya yang terjatuh, dan bibirku hanya bisa berucap dengan terbata, “Re..jangan..nangis...m..maafin..chilla...love..you..Re..” Aku berusaha tersenyum meskipun sekarang tubuhku mulai terasa kaku. Mungkin ini adalah saat aku pergi, perlahan tubuhku melemas dari kaki. Hingga aku menutup mataku dan nafasku terhenti. Saat itu juga dokter mengatakan bahwa perjalananku di dunia sudah berakhir.
Kini bunga mawar itu hanya tinggal tangkai di dalam sebuah gelas bening, Re berjalan mendekati tangaki mawar itu. Di bawahnya masih terdapat kelopak bunga yang berserakan dan mulai mengering. Re melihat sebuah amplop berwarna merah jambu. Di raihnya amplop itu dan dia mulai membaca isi di dalamnya. Tulisan yang pernah ku tulis sebelum aku meninggalakannya untuk selamanya.

Dear,
My Beloved Renal
Hi Re, ketika kamu membaca surat ini mungkin aku sudah gak bisa lagi menyeka air matamu. Maafkan aku Re buat kamu sedih. Ku harap kamu gak meangisi kepergianku. Aku ingin kamu jadi orang pertama yang tersenyum saat aku pergi nanti. Re, maafkan aku gak pernah cerita sama kamu tentang penyakitku. Aku hanya gak pengen buat kamu khawatir sama keadaanku Re. Re, makasih ya hadiah pertama yang kamu berikan untukku. Ku rasa itu juga hadiah terakhir yang aku dapatkan selama perjalananku di dunia. Terimakasih untuk bunga terakhir yang sudah kamu berikan untukku. Aku sangat menyukainya. aku mencintaimu Re
Yours,
Chilla

Setelah membaca suart itu, Re menyeka air matanya dan membawa bunga mawar yang tersisa tangkainya itu di atas tanah makam Chilla yang masih basah. Di letakkannya tangkai mawar itu di samping batu nisan Chilla, “Chi, lihat nih aku tersenyum aku gak nangis. Chi, maafin aku gak bisa jagain kamu, aku pengen kamu bawa bunga mawar ini bersamamu sebagai hadiah terakhir dariku. Aku sangat mencintaimu Chi“

TAMAT
 

love life calm Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template and web hosting