Rabu, 17 September 2014

Andai



Senja masih merona, bahkan nyiur kelapa masih menunjukan lambaiannya pada semesta. Namun, kehidupan memang tak selalu seindah formasi burung bangau yang melintasi lautan lepas.
Tubuhnya terlihat kaku terhempas sepoi angin laut. Dipererat simpul syal merah muda yang melingkar di lehernya, “Pffftt......” Gadis itu menghela nafas panjang, kemudian beranjak pergi meninggalkan bibir pantai dengan kursi rodanya.
Di dalam sebuah apartemen, gadis itu mematutkan diri di depan cermin, air mata mulai meleleh membasahi kulitnya yang kering keriput. Sejenak ia terdiam, menundukan kepala, kemudian terlelap.
***
5 tahun yang lalu, Naya seorang gadis baru gede yang mulai mencari jati diri. Wajahnya cantik, perawakannya tinggi semampai, tak heran jika banyak agency modeling yang meliriknya untuk memotret tiap pose dan senyum menawan Naya. Singkat kata, kini Naya menjadi seorang model baru. Wajahnya menghiasi sampul majalah-majalah keluaran terbaru.
Sayang, kehidupan sosialnya tak secemerlang karir yang di geluti Naya, banyak saingan yang berusaha menjatuhkannya, bahkan perlahan semua teman terdekat Naya mulai menjauh. Tidak hanya itu, kedua orangtuanya yang semakin sibuk dengan pekerjaan masing-masing, membuat dunia Naya semakin sepi.
Hari-harinya dihabiskan untuk pemotretan dan sekolah, semakin lama kondisi Naya makin menurun karena kesibukan yang memaksanya untuk beraktifitas tanpa istirahat. Akhirnya, Naya sampai pada fase jatuh sakit. Tubuhnya lemah, namun tak ada seorangpun yang merawatnya. Pada keadaan itu Naya mencoba menghubungi seorang temannya, “Hallo, aku sedang sakit. Bisakah kamu kerumahku sekarang?” Dari sambungan telepon seorang lelaki menjawab, “Oke, aku kesana 10 menit lagi”
10 menit kemudian seorang lelaki berusia 20-an memasuki kamar Naya, “Hei Naya, ada apa denganmu?” Sapanya sambil mendekat ke arah Naya.
“Aku demam” Jawabnya lirih,
“tolong antarkan aku ke dokter, mama dan papaku sedang sibuk” Lanjutnya.
Sejenak lelaki itu mengernyitkan dahi, kemudian tersenyum, “Naya, jangan ke dokter! Pasti dokter akan menyuruhmu opname, nanti kamu jadi tidak bisa bekerja kan!” Ujarnya.
“Tapi aku benar-benar sakit, ku mohon!” Naya tampak memelas.
Lelaki itu terlihat merogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya, kemudian mengeluarkan sebuah plastik kecil berisi bulatan-bulatan putih, “Kamu minum obat saja, nanti pasti sembuh!” Lelaki itu menyodorkan sebuah plastik kecil berisi 3 butir obat berwarna putih.
“Tapi...Aku tidak terbiasa minum obat tanpa resep dokter” Kata Naya menolak halus obat pemberian lelaki itu.
“Tenanglah, ini hanya suplemen untuk menambah prima tubuhmu, tidak perlu resep dokter” Lelaki itu meyakinkan Naya dan membimbingnya untuk meminum obat tersebut.
Setelah minum obat tubuh Naya terasa ringan dan perlahan ia mulai tertidur. Keesokan harinya Naya telah kembali sehat, “Wah, suplemen pemberian Kak Romi kemarin benar-benar bekerja dengan baik” Gumam Naya sumringah.
Hari berganti hari, Naya makin sering merasa kelelahan, makin sering pula mengonsumsi obat yang sejatinya tidak pernah dia ketahui obat apa. Perlahan uang tabungan yang susah payah ia kumpulkan terkuras habis untuk membeli obat-obatan itu. Suatu hari, tiba-tiba tubuh Naya mengejang saat melakukan pemotretan, tingkahnya tak karuan, bola matanya berputar-putar, semua crew yang ada tampak panik. Romi segera mendekat dan menyuntikan cairan kedalam tubuh Naya, setelah itu Naya kehilangan kesadarannya.
Kian lama Naya semakin lemah, sakit sedikit saja tak mampu beranjak dari pembaringannya hari-harinya makin gelisah, diam-diam Naya pergi ke Singapura. Awalnya ia hanya berniat untuk menyegarkan fikirannya yang tak karuan karena kondisi tubuhnya yang dirasa berubah itu , namun malang tak dapat di tolak, setibanya di Singapura Naya malah jatuh sakit dan mau tak mau ia harus berlibur di rumah sakit.
Seminggu berada di rumah sakit, bagai peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga, dokter mendiagnosa Naya telah positif sebagai pengidap AIDS dan pengguna narkoba. Mendengar statement dokter tersebut, Naya langsung menolaknya mentah-mentah, “Tidak mungkin! Saya tidak pernah menggunakan narkoba! Saya tidak pernah berhubungan badan dengan siapapun! Tidak mungkin saya terkena AIDS! Dokter pasti salah! Dokter berbohong pada saya!” Teriaknya sambil bercucuran air mata.
***
Suara seorang wanita muda berpakaian suster terdengar membucahkan kesunyian di dalam sebuah kamar apartemen yang menghadap langsung ke muka laut. Wanita itu meletakan sebuah nampan berisi makanan di meja kecil di samping sebuah mini bed  yang tertata rapi. Kemudian berjalan kearah tubuh yang tertidur di depan meja rias, sejenak wanita itu mengernyitkan dahi, menyentuh tubuh itu, “Ya Tuhan, dia telah mati!”

0 komentar:

Posting Komentar

 

love life calm Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template and web hosting