Senja
masih merona, bahkan nyiur kelapa masih menunjukan lambaiannya pada semesta.
Namun, kehidupan memang tak selalu seindah formasi burung bangau yang melintasi
lautan lepas.
Tubuhnya
terlihat kaku terhempas sepoi angin laut. Dipererat simpul syal merah muda yang
melingkar di lehernya, “Pffftt......” Gadis itu menghela nafas panjang,
kemudian beranjak pergi meninggalkan bibir pantai dengan kursi rodanya.
Di
dalam sebuah apartemen, gadis itu mematutkan diri di depan cermin, air mata
mulai meleleh membasahi kulitnya yang kering keriput. Sejenak ia terdiam,
menundukan kepala, kemudian terlelap.
***
5
tahun yang lalu, Naya seorang gadis baru
gede yang mulai mencari jati diri. Wajahnya cantik, perawakannya tinggi
semampai, tak heran jika banyak agency modeling yang meliriknya untuk memotret
tiap pose dan senyum menawan Naya. Singkat kata, kini Naya menjadi seorang
model baru. Wajahnya menghiasi sampul majalah-majalah keluaran terbaru.
Sayang,
kehidupan sosialnya tak secemerlang karir yang di geluti Naya, banyak saingan
yang berusaha menjatuhkannya, bahkan perlahan semua teman terdekat Naya mulai
menjauh. Tidak hanya itu, kedua orangtuanya yang semakin sibuk dengan pekerjaan
masing-masing, membuat dunia Naya semakin sepi.
Hari-harinya
dihabiskan untuk pemotretan dan sekolah, semakin lama kondisi Naya makin
menurun karena kesibukan yang memaksanya untuk beraktifitas tanpa istirahat.
Akhirnya, Naya sampai pada fase jatuh sakit. Tubuhnya lemah, namun tak ada
seorangpun yang merawatnya. Pada keadaan itu Naya mencoba menghubungi seorang
temannya, “Hallo, aku sedang sakit. Bisakah kamu kerumahku sekarang?” Dari
sambungan telepon seorang lelaki menjawab, “Oke, aku kesana 10 menit lagi”
10
menit kemudian seorang lelaki berusia 20-an memasuki kamar Naya, “Hei Naya, ada
apa denganmu?” Sapanya sambil mendekat ke arah Naya.
“Aku
demam” Jawabnya lirih,
“tolong
antarkan aku ke dokter, mama dan papaku sedang sibuk” Lanjutnya.
Sejenak
lelaki itu mengernyitkan dahi, kemudian tersenyum, “Naya, jangan ke dokter!
Pasti dokter akan menyuruhmu opname, nanti kamu jadi tidak bisa bekerja kan!”
Ujarnya.
“Tapi
aku benar-benar sakit, ku mohon!” Naya tampak memelas.
Lelaki
itu terlihat merogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya, kemudian mengeluarkan
sebuah plastik kecil berisi bulatan-bulatan putih, “Kamu minum obat saja, nanti
pasti sembuh!” Lelaki itu menyodorkan sebuah plastik kecil berisi 3 butir obat
berwarna putih.
“Tapi...Aku
tidak terbiasa minum obat tanpa resep dokter” Kata Naya menolak halus obat
pemberian lelaki itu.
“Tenanglah,
ini hanya suplemen untuk menambah prima tubuhmu, tidak perlu resep dokter” Lelaki
itu meyakinkan Naya dan membimbingnya untuk meminum obat tersebut.
Setelah
minum obat tubuh Naya terasa ringan dan perlahan ia mulai tertidur. Keesokan harinya
Naya telah kembali sehat, “Wah, suplemen pemberian Kak Romi kemarin benar-benar
bekerja dengan baik” Gumam Naya sumringah.
Hari
berganti hari, Naya makin sering merasa kelelahan, makin sering pula
mengonsumsi obat yang sejatinya tidak
pernah dia ketahui obat apa. Perlahan uang tabungan yang susah payah ia
kumpulkan terkuras habis untuk membeli obat-obatan itu. Suatu hari, tiba-tiba
tubuh Naya mengejang saat melakukan pemotretan, tingkahnya tak karuan, bola
matanya berputar-putar, semua crew yang
ada tampak panik. Romi segera mendekat dan menyuntikan cairan kedalam tubuh
Naya, setelah itu Naya kehilangan kesadarannya.
Kian
lama Naya semakin lemah, sakit sedikit saja tak mampu beranjak dari
pembaringannya hari-harinya makin gelisah, diam-diam Naya pergi ke Singapura.
Awalnya ia hanya berniat untuk menyegarkan fikirannya yang tak karuan karena
kondisi tubuhnya yang dirasa berubah
itu , namun malang tak dapat di tolak, setibanya di Singapura Naya malah jatuh
sakit dan mau tak mau ia harus berlibur di rumah sakit.
Seminggu
berada di rumah sakit, bagai peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga, dokter
mendiagnosa Naya telah positif sebagai pengidap AIDS dan pengguna narkoba.
Mendengar statement dokter tersebut,
Naya langsung menolaknya mentah-mentah, “Tidak mungkin! Saya tidak pernah
menggunakan narkoba! Saya tidak pernah berhubungan badan dengan siapapun! Tidak
mungkin saya terkena AIDS! Dokter pasti salah! Dokter berbohong pada saya!”
Teriaknya sambil bercucuran air mata.
***
Suara
seorang wanita muda berpakaian suster terdengar membucahkan kesunyian di dalam
sebuah kamar apartemen yang menghadap langsung ke muka laut. Wanita itu meletakan
sebuah nampan berisi makanan di meja kecil di samping sebuah mini bed
yang tertata rapi. Kemudian berjalan kearah tubuh yang tertidur di depan
meja rias, sejenak wanita itu mengernyitkan dahi, menyentuh tubuh itu, “Ya
Tuhan, dia telah mati!”
0 komentar:
Posting Komentar