Cahaya mata itu kembali berpendar. Sesekali ia mencuri pandang ke arahku, kemudian tertunduk malu.
Hari ini, ia telah sah menjadi istriku. Mata yang indah itu adalah miliku. Kedua bola matanya terlihat bersinar. Hanya sekali sebutir air mata tercurah ketika pelafalan ijab qobul. Aini benar-benar cantik. Siapapun tak akan menyangka jika Aini 'cacat'. Ketika tiba saatnya kami berdua, ku belai tubuhnya. Jemarinya terasa dingin menggenggam telapak tanganku. " Abi, aku tidak cantik. Kau tau mataku buta, jangan engkau menyesal telah mempersuntingku " tuturnya lembut sambil melekatkan tubuhnya ke dadaku.
" Kau sempurna seutuhnya ya habibi, aku tak akan menyesal telah menikahimu " ku belai ujung kepalanya.
Aini hanya terdiam di pelukanku. Mungkin dia lelah, atau mungkin dia sedang memikirkan 'sesuatu'.
***
keluargaku sempat tidak setuju aku menikah dengan Aini. " Bagaimana seorang wanita yang tidak bisa melihat dapat melayani suaminya? " geram saudaraku.
Aku sempat terdiam, tak kuasa melihaw wajah Aini yang memerah. Cahaya matanya kembali meredup, bersiap menumpahkan seluruh air matanya.
" Aku menikahinya bukan untuk kujadikan pelayanku. Tapi ku nikahi dia untuk kujadikan pendamping hidupku dan langkahku menuju surga " ku bimbing Aini keluar dari rumahku, Aini benar-benar menangis. Aku telah melukai perasaannya.
***
cukup lama kami terdiam dalam kesunyian, hanya hembus nafas dan detak jantung kami yang beradu berirama. " Sayang "
Aini mendongakkan kepalanya menatapku " Iya abi? " suaranya bergetar memacah kesunyian.
" Apakah sekarang aku sudah boleh melihat hak ku? "
Aini terlihat tertunduk malu. " Boleh kah sayangku? " ucapku sembari tersenyum, meyakikan bahwa aku akan menjaga dirinya seutuhnya.
Kepalanya mengangguk, ku arahkan tanganku ke kain itu dan membukanya perlahan.
Subhanallah, sungguh keagunganmu menciptakan hamba-hambamu dengan kecantikan yang luar biasa.
" Kamu sungguh sangat cantik Aini, kini kamu boleh tidak memakai cadar ini di hadapan suamimu. Tapi kamu harus selalu memakainya saat kamu bepergian. Wajahmu ini hak suamimu, jangan kau perlihatkan pada lelaki lainnya "
ku kecup lembut keningnya dan membelai pipinya yang tembam.
Kedua bola mata itu kembali bersinar, kini aku bisa melihat senyum di bibirnya :)
Hari ini, ia telah sah menjadi istriku. Mata yang indah itu adalah miliku. Kedua bola matanya terlihat bersinar. Hanya sekali sebutir air mata tercurah ketika pelafalan ijab qobul. Aini benar-benar cantik. Siapapun tak akan menyangka jika Aini 'cacat'. Ketika tiba saatnya kami berdua, ku belai tubuhnya. Jemarinya terasa dingin menggenggam telapak tanganku. " Abi, aku tidak cantik. Kau tau mataku buta, jangan engkau menyesal telah mempersuntingku " tuturnya lembut sambil melekatkan tubuhnya ke dadaku.
" Kau sempurna seutuhnya ya habibi, aku tak akan menyesal telah menikahimu " ku belai ujung kepalanya.
Aini hanya terdiam di pelukanku. Mungkin dia lelah, atau mungkin dia sedang memikirkan 'sesuatu'.
***
keluargaku sempat tidak setuju aku menikah dengan Aini. " Bagaimana seorang wanita yang tidak bisa melihat dapat melayani suaminya? " geram saudaraku.
Aku sempat terdiam, tak kuasa melihaw wajah Aini yang memerah. Cahaya matanya kembali meredup, bersiap menumpahkan seluruh air matanya.
" Aku menikahinya bukan untuk kujadikan pelayanku. Tapi ku nikahi dia untuk kujadikan pendamping hidupku dan langkahku menuju surga " ku bimbing Aini keluar dari rumahku, Aini benar-benar menangis. Aku telah melukai perasaannya.
***
cukup lama kami terdiam dalam kesunyian, hanya hembus nafas dan detak jantung kami yang beradu berirama. " Sayang "
Aini mendongakkan kepalanya menatapku " Iya abi? " suaranya bergetar memacah kesunyian.
" Apakah sekarang aku sudah boleh melihat hak ku? "
Aini terlihat tertunduk malu. " Boleh kah sayangku? " ucapku sembari tersenyum, meyakikan bahwa aku akan menjaga dirinya seutuhnya.
Kepalanya mengangguk, ku arahkan tanganku ke kain itu dan membukanya perlahan.
Subhanallah, sungguh keagunganmu menciptakan hamba-hambamu dengan kecantikan yang luar biasa.
" Kamu sungguh sangat cantik Aini, kini kamu boleh tidak memakai cadar ini di hadapan suamimu. Tapi kamu harus selalu memakainya saat kamu bepergian. Wajahmu ini hak suamimu, jangan kau perlihatkan pada lelaki lainnya "
ku kecup lembut keningnya dan membelai pipinya yang tembam.
Kedua bola mata itu kembali bersinar, kini aku bisa melihat senyum di bibirnya :)