Belum lama aku memperhatikannya. Seorang gadis bercadar dengan mata yang
indah. Bola matanya berwarna kecoklatan yang menandakan dia juga orang asia.
Tapi akhir-akhir ini aku baru tahu kalau dia penyandang tuna netra. Aku
menyadarinya ketika dia hampir tertabrak sebuah mobil beberapa hari yang lalu.
Aku melihat cahaya matanya meredup, meskipun dalam keadaan menunduk. Sungguh,
aku ingin menolongnya ketika pengendara mobil itu memaki-maki dirinya. Tapi
niatku terhalang oleh hukum di negara minyak ini, dimana haram hukumnya orang
asing ikut campur kedalam urusan orang lain meskipun itu bertujuan baik.
Mengganggu privasi katanya.
Sore itu aku bertemu lagi dengannya. Gadis bercadar dengan mata yang
indah. Tapi, kenapa dia ada di sini? Inikan perpustakaan?
Karena penasaran aku berjalan ke arahnya dan menyapa,
"Assalamu'alaikum ya ukhti"
Gadis itu mengarahkan pandangannya padaku sambil menjawab salamku,
"Wa'alaikumsalam warrahmah ya akhi, pasti orang indonesia ya?" wiih,
dia bisa bahasa indonesia, dan yang lebih mengejutkan dia tau aku orang
indonesia, "Iya, saya orang indonesia. Kok kamu tau?" tanyaku
penasaran
"Kedengeran dari suaramu" jawabnya sambil meraba-raba sebuah
buku yang terlihat tebal
"Bolehkah saya duduk disini?" tanyaku lagi
gadis itu hanya menganggukkan kepala dan menggeser duduknya cukup jauh
dariku.
Kamipun banyak berbincang-bincang. Gadis itu bernama Aini, yang dalam
bahasa arab berarti `mata`. Aini sudah hampir 10 tahun ini tinggal di saudi,
"Kamu tak pernah pulang ke Indonesia? Apa kamu tak rindu dengan keluargamu
disana?"
"Kedua orangtuaku sudah meninggal sejak aku masih sangat kecil, aku
seorang yatimpiatu, aku sebatangkara. Lagi pula aku tidak suka di
Indonesia!"
"Kenapa?"
"Mereka mengaggap aku cacat sehingga mereka memperlakukan aku dengan
berbeda"
Sejenak aku berfikir, bukankah benar kalau dia `cacat` ? Seperti
menangkap kegelisahanku, Aini berkata, "Jangan memandang kedua bola mata
ini,aku memang buta,tapi aku bisa melihat,hatiku tidak buta" butiran
kristal bening mulai meleleh dari kedua bola matanya dan menyesap ke cadar yang
dia pakai, "Walaupun aku cacat, aku bisa melakukan semuanya sendiri
seperti orang normal. Aku tak mau merepotkan orang lain kok. Aku juga seperti
kalian" Aini mengeluarkan kartu pengenalnya dan menyodorkannya padaku,
"Lihat ini"
Subhanallah, Aini adalah seorang sarjana hukum. Meskipun dengan
keterbatasan yang dia miliki. Subhanallah..
"Gelarku tak berarti karena aku seorang tuna netra. Di mata mereka
aku tetap orang yang rendah, sehingga aku memilih untuk tidak pulang ke
indonesia"
sejenak kami berdua terdiam, berkutat dengan fikiran kami masing-masing.
Aku benar-benar tersentuh mendengar cerita Aini. Dia adalah sosok wanita yang
sangat kuat. Mungkin lebih dari itu, kurasa.
"Aini" ucapku lirih seraya memecah kesunyian
"Ya?" dia menoleh ke arahku
"Apa kau mau pulang ke Indonesia bersamaku?"
"Maaf?" dia terlihat sedikit bingung
"Aku ingin mempersuntingmu, aku akan melindungimu. Maukah kau pulang
bersamaku?"
"Kamu tidak bercanda?apa kamu tidak tahu kalau aku ini buta?"
tanyanya sedikit keheranan
"Aku tau Aini, karena aku bisa melihat, tapi aku tak akan memandang
kedua bola mata itu. Aku hanya akan melihat hatimu yang juga melihatku"
Aini terlihat tertunduk malu, kedua bola matanya kembali memancarkan
cahayanya. Kedua mata yang indah, kedua mata yang tak berdosa, kedua mata yang
tak pernah melihat apa yang tidak sepantasnya dilihat. Seorang gadis bercadar
dengan mata yang indah
0 komentar:
Posting Komentar