Minggu, 04 Mei 2014

KORUPSI, Satu Kata Berjuta Makna


Korupsi, siapa diantara kita yang tidak mengenal korupsi? hampir setiap harinya kita mendengar kata ini. Di layar televisi membahas korupsi, di koran-koran membahas korupsi, hampir semua media cetak dan elektronik acap kali menayangkan hal-hal yang berbau korupsi, dan money politik lainnya.
Apalagi sekarang ini sedang maraknya pesta demokrasi yang masih ada sangkut pautnya dengan korupsi juga. Pemerintah korupsi, sekolah dan intansi lainnya korupsi, caleg korupsi, semua petinggi dan pejabat korupsi, perusahaan-perusahaan korupsi, pelajar korupsi, guru-guru korupsi, para pedagang korupsi, lantas Anda. Apa Anda juga melakukan korupsi?
Jadi, sebenarnya apa itu korupsi? Banyak dari kita orang awam yang belum paham betul apa itu korupsi, yang kita tahu hanya DPR dan yang lainnya yang terjerat kasus korupsi, yang memiliki omset miliaran bahkan triliunan rupiah yang bukan berasal dari gaji mereka. Kalau bukan dari gaji? Lalu darimana munculnya uang itu? apakah korupsi hanya sebatas tentang uang yang di selewengkan?
Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia korupsi adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang di kuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Jadi menurut pengertian di atas, apa hanya pejabat publik yang melakukan korupsi. Apakah orang awam sepenuhnya bebas dari korupsi?
Belajar dari permasalahan, korupsi memiliki berjuta makna. Layaknya yang kita lihat setiap hari, korupsi bisa berarti keserakahan. Misalnya pejabat, petinggi, politisi, dan pegawai negeri yang mersa kurang dengan dengan gaji mereka yang sebenarnya bisa dibilang cukup jika di bandingkan dengan pegawai bawah lainnya. Korupsi juga bisa berarti kemalasan, seperti guru-guru yang korupsi jam pelajaran siswanya dengan datang terlambat karena malas mengajar, pada akhirnya mereka makan gaji buta. Apa hanya guru yang korupsi? Tentu tidak, siswapun juga dapat melakukan korupsi. Malah sangat banyak pelajar di negara kita yang melakukan korupsi, percaya atau tidak inilah kenyataan yang terjadi.
Awal mulanya seorang siswa memasuki jenjang sekolah dasar, orang tua yang ambisius ingin anaknya masuk ke sekolah favorit sedangkan anaknya sendiri membaca dan berhitungpun tak bisa. Mulai dari situ orangtua mati-matian melakukan berbagai cara agar anaknya dapat diterima di sekolah yang orangtua inginkan. Ratusan ribu hingga jutaan mereka keluarkan untuk membeli bangku sekolah. Hal itupun berulang lagi di jenjang SMP, SMA, Perguruan Tinggi, bahkan sampai dalam tingkatan pekerjaan. Tapi ternyata tidak hanya sampai di situ, disaat sudah memasuki sekolah kecurangan kembali terjadi, dan lagi-lagi karena orangtua yang terlalu berambisi, demi selembar kertas piagam bertuliskan nama anaknya sebagai bintang kelas para orangtua rela merogoh isi dompet untuk membeli nilai, betapa mirisnya negara kita jika ternyata di balik nama-nama berprestasi ternyata hanya sebatas permainan uang. Tapi, korupsi siswa tidak selalu berkaitan dengan uang, mencontek dan membolos juga bisa dibilang korupsi.
Jika kita lihat dari perjalananya, sebagian besar korupsi di dominasi berasal dari kebiasaan sedari dini, meskipun tidak semuanya seperti itu. Ada yang memang mereka melakukan korupsi karena keadaan gaya hidup yang menuntut mereka melakukan korupsi. Tapi apapun alasannya korupsi tetap saja merugikan lebih banyak bihak daripada yang di untungkan.
Sebagai generasi penerus bangsa, sudah seharusnya kita MENOLAK TEGAS kata korupsi, sedari kecil kita harus menanamkan pada diri kita tentang kejujuran, karena dimana saja yang namanya korupsi tidak ada yang jujur. Berawal dari satu kebohongan kecil dan berlanjut di kebohongan-kebohongan kecil lainnya.
Selain itu peranan orangtua dalam keluarga juga penting dalam pembentukan karakter calon generasi penerus bangsa, tidak seharusnya orangtua memaksakan anaknya demi ambisi pribadi karena itu akan cenderung mengganggu perkembangan psikologis anak, anak-anak akan cenderung malas berusaha. Toh orangtuanya masih mampu membiayai, selama ada uang apapun bisa di beli, apapun bisa di penuhi. Hal ini akan membuat manusia-manusia di perbudak oleh uang, dan lantas melakukan korupsi. Di luar hal itu bukan berarti jika orangtua tak pernah memaksakan berarti kita bisa santai tanpa berusaha. Jika kita ingin maju, jika kita ingin merubah kehidupan kita, merubah nasib kita, merubah negara kita, kita tetap HARUS BERUSAHA. Percayalah, tak ada orang yang tidak bisa. Yang ada hanya mereka yang tak mau berusaha. Kita bisa menyejahterakan diri kita sendiri tanpa harus bergantung dan merugikan pihak lain. Dengan terus berusaha dan berdoa kepada Tuhan, niscaya apapun tujuan kita pasti terlaksana. Hanya dengan kesungguh-sungguhan dan PERCAYA Tuhan akan mengabulkan setiap doa kita. Dalam sebuah hadist di tuliskan “ Aku adalah apa yang hambaKu sangkakan “
Kita tidak perlu iri dengan apa yang orang lain miliki, hidup dengan apa yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, selalu merasa bersyukur akan menghindarkan kita dari keserakahan yang akan menjerumuskan kita ke lembah korupsi.
Andaisaja setiap orang yang telah melakukan korupsi mengerti apa yang telah mereka lakukan, pasti mereka tidak akan melakukannya. Coba kita lihat di sekeliling, orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, jangankan tempat tinggal untuk mencari sesuap nasi saja belum tentu mereka bisa makan setiap hari. Di lain tempat, coba lihat para koruptor yang hidup bergelimang harta, uang dan aset di mana-mana, untuk makan 24 kali seharipun tak akan habis 7 turunan. Bahkan koruptor yang sedang menunggu masa hukuman masih bisa memakai pakaian mahal, menikmati kamar berpendingin ruangan, bahkan menggunakan smartphone dan televisi layar datar.
Bandingkan ! Untuk kebahagiaan 1  orang saja, merekatelah membunuh ribuan jiwa di luar sana yang tidak dapat makan dan memenuhi gizinya, yang tidak memiliki biaya untuk menyembuhkan penyakitnya, dia merusak masa depan anak-anak yang tidak bisa menuntut hak pendidikannya, mereka bersenang-senang diatas tangisan berjuta rakyat diluar sana. Mereka tidur di atas kasur kapuk disaat yang lainnya tidur di bawah langit-langit di temani dinginnya angin malam berkasurkan kardus bekas atau tidak sama sekali, mereka bekerja di kursi empuk meja direksi disaat yang lainnya bekerja di bawah teriknya sinar matahari dan oksigen yang tercemari polusi. Mereka menghamburkan uang untuk hal yang tak berguna disaat yang lainnya bersusah payah mengais recehan untuk menyambung hidupnya.
Jadi bagaiman Pak Presiden jika para koruptor di hukum mati saja? Lebih baik membunuh seorang daripada membunuh lebih banyak orang lagi di negara ini.
Dan untuk para koruptor yang mengajukan banding atas hukuman yang tidak seberapa, apa tidak malu? Telah jelas mencuri, jelas membunuh, jelas melakukan penyiksaan tapi tak ingin mendapatkan hukuman yang setimpal? Berkacalah, dan belajar melihat di sekeliling kalian. Masih banyak orang yang kurang beruntung yang lebih berhak menerima bantuan daripada kalian.
Sadarlah Bangsa Indonesia, apa kita ingin terus berada pada keadaan ini?
Mari kita renungkan masing-masing apa yang telah kita perbuat dan memperbaiki segala kesalahan di masa yang lampau, mari kita bawa negara ini mejadi negara yang lebih, lebih, dan lebih baik dari sebelumnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

love life calm Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template and web hosting