Korupsi, siapa diantara
kita yang tidak mengenal korupsi? hampir setiap harinya kita mendengar kata
ini. Di layar televisi membahas korupsi, di koran-koran membahas korupsi,
hampir semua media cetak dan elektronik acap kali menayangkan hal-hal yang
berbau korupsi, dan money politik
lainnya.
Apalagi sekarang ini
sedang maraknya pesta demokrasi yang masih ada sangkut pautnya dengan korupsi
juga. Pemerintah korupsi, sekolah dan intansi lainnya korupsi, caleg korupsi,
semua petinggi dan pejabat korupsi, perusahaan-perusahaan korupsi, pelajar
korupsi, guru-guru korupsi, para pedagang korupsi, lantas Anda. Apa Anda juga
melakukan korupsi?
Jadi, sebenarnya apa
itu korupsi? Banyak dari kita orang awam yang belum paham betul apa itu
korupsi, yang kita tahu hanya DPR dan yang lainnya yang terjerat kasus korupsi,
yang memiliki omset miliaran bahkan triliunan rupiah yang bukan berasal dari
gaji mereka. Kalau bukan dari gaji? Lalu darimana munculnya uang itu? apakah
korupsi hanya sebatas tentang uang yang di selewengkan?
Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia korupsi
adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta
pihak lain yang terlibat dalam itu yang secara tidak wajar dan tidak legal
menyalahgunakan kepercayaan publik yang di kuasakan kepada mereka untuk
mendapatkan keuntungan sepihak. Jadi menurut pengertian di atas, apa hanya
pejabat publik yang melakukan korupsi. Apakah orang awam sepenuhnya bebas dari
korupsi?
Belajar dari
permasalahan, korupsi memiliki berjuta makna. Layaknya yang kita lihat setiap
hari, korupsi bisa berarti keserakahan. Misalnya pejabat, petinggi, politisi,
dan pegawai negeri yang mersa kurang dengan dengan gaji mereka yang sebenarnya
bisa dibilang cukup jika di bandingkan dengan pegawai bawah lainnya. Korupsi
juga bisa berarti kemalasan, seperti guru-guru yang korupsi jam pelajaran
siswanya dengan datang terlambat karena malas mengajar, pada akhirnya mereka
makan gaji buta. Apa hanya guru yang korupsi? Tentu tidak, siswapun juga dapat
melakukan korupsi. Malah sangat banyak pelajar di negara kita yang melakukan
korupsi, percaya atau tidak inilah kenyataan yang terjadi.
Awal mulanya seorang
siswa memasuki jenjang sekolah dasar, orang tua yang ambisius ingin anaknya
masuk ke sekolah favorit sedangkan anaknya sendiri membaca dan berhitungpun tak
bisa. Mulai dari situ orangtua mati-matian melakukan berbagai cara agar anaknya
dapat diterima di sekolah yang orangtua inginkan. Ratusan ribu hingga jutaan
mereka keluarkan untuk membeli bangku sekolah. Hal itupun berulang lagi di
jenjang SMP, SMA, Perguruan Tinggi, bahkan sampai dalam tingkatan pekerjaan.
Tapi ternyata tidak hanya sampai di situ, disaat sudah memasuki sekolah
kecurangan kembali terjadi, dan lagi-lagi karena orangtua yang terlalu
berambisi, demi selembar kertas piagam bertuliskan nama anaknya sebagai bintang
kelas para orangtua rela merogoh isi dompet untuk membeli nilai, betapa
mirisnya negara kita jika ternyata di balik nama-nama berprestasi ternyata
hanya sebatas permainan uang. Tapi, korupsi siswa tidak selalu berkaitan dengan
uang, mencontek dan membolos juga bisa dibilang korupsi.
Jika kita lihat dari
perjalananya, sebagian besar korupsi di dominasi berasal dari kebiasaan sedari
dini, meskipun tidak semuanya seperti itu. Ada yang memang mereka melakukan
korupsi karena keadaan gaya hidup yang menuntut mereka melakukan korupsi. Tapi
apapun alasannya korupsi tetap saja merugikan lebih banyak bihak daripada yang
di untungkan.
Sebagai generasi
penerus bangsa, sudah seharusnya kita MENOLAK TEGAS kata korupsi, sedari kecil
kita harus menanamkan pada diri kita tentang kejujuran, karena dimana saja yang
namanya korupsi tidak ada yang jujur. Berawal dari satu kebohongan kecil dan
berlanjut di kebohongan-kebohongan kecil lainnya.
Selain itu peranan
orangtua dalam keluarga juga penting dalam pembentukan karakter calon generasi
penerus bangsa, tidak seharusnya orangtua memaksakan anaknya demi ambisi
pribadi karena itu akan cenderung mengganggu perkembangan psikologis anak, anak-anak
akan cenderung malas berusaha. Toh orangtuanya masih mampu membiayai, selama
ada uang apapun bisa di beli, apapun bisa di penuhi. Hal ini akan membuat
manusia-manusia di perbudak oleh uang, dan lantas melakukan korupsi. Di luar
hal itu bukan berarti jika orangtua tak pernah memaksakan berarti kita bisa
santai tanpa berusaha. Jika kita ingin maju, jika kita ingin merubah kehidupan
kita, merubah nasib kita, merubah negara kita, kita tetap HARUS BERUSAHA.
Percayalah, tak ada orang yang tidak bisa. Yang ada hanya mereka yang tak mau
berusaha. Kita bisa menyejahterakan diri kita sendiri tanpa harus bergantung
dan merugikan pihak lain. Dengan terus berusaha dan berdoa kepada Tuhan,
niscaya apapun tujuan kita pasti terlaksana. Hanya dengan kesungguh-sungguhan
dan PERCAYA Tuhan akan mengabulkan setiap doa kita. Dalam sebuah hadist di tuliskan
“ Aku adalah apa yang hambaKu sangkakan “
Kita tidak perlu iri
dengan apa yang orang lain miliki, hidup dengan apa yang telah Tuhan karuniakan
kepada kita, selalu merasa bersyukur akan menghindarkan kita dari keserakahan
yang akan menjerumuskan kita ke lembah korupsi.
Andaisaja setiap orang
yang telah melakukan korupsi mengerti apa yang telah mereka lakukan, pasti
mereka tidak akan melakukannya. Coba kita lihat di sekeliling, orang-orang yang
tidak memiliki tempat tinggal, jangankan tempat tinggal untuk mencari sesuap
nasi saja belum tentu mereka bisa makan setiap hari. Di lain tempat, coba lihat
para koruptor yang hidup bergelimang harta, uang dan aset di mana-mana, untuk
makan 24 kali seharipun tak akan habis 7 turunan. Bahkan koruptor yang sedang
menunggu masa hukuman masih bisa memakai pakaian mahal, menikmati kamar
berpendingin ruangan, bahkan menggunakan smartphone dan televisi layar datar.
Bandingkan ! Untuk
kebahagiaan 1 orang saja, merekatelah
membunuh ribuan jiwa di luar sana yang tidak dapat makan dan memenuhi gizinya,
yang tidak memiliki biaya untuk menyembuhkan penyakitnya, dia merusak masa
depan anak-anak yang tidak bisa menuntut hak pendidikannya, mereka
bersenang-senang diatas tangisan berjuta rakyat diluar sana. Mereka tidur di
atas kasur kapuk disaat yang lainnya tidur di bawah langit-langit di temani
dinginnya angin malam berkasurkan kardus bekas atau tidak sama sekali, mereka
bekerja di kursi empuk meja direksi disaat yang lainnya bekerja di bawah
teriknya sinar matahari dan oksigen yang tercemari polusi. Mereka menghamburkan
uang untuk hal yang tak berguna disaat yang lainnya bersusah payah mengais
recehan untuk menyambung hidupnya.
Jadi bagaiman Pak
Presiden jika para koruptor di hukum mati saja? Lebih baik membunuh seorang
daripada membunuh lebih banyak orang lagi di negara ini.
Dan untuk para koruptor
yang mengajukan banding atas hukuman yang tidak seberapa, apa tidak malu? Telah
jelas mencuri, jelas membunuh, jelas melakukan penyiksaan tapi tak ingin
mendapatkan hukuman yang setimpal? Berkacalah, dan belajar melihat di
sekeliling kalian. Masih banyak orang yang kurang beruntung yang lebih berhak
menerima bantuan daripada kalian.
Sadarlah Bangsa
Indonesia, apa kita ingin terus berada pada keadaan ini?
Mari kita renungkan
masing-masing apa yang telah kita perbuat dan memperbaiki segala kesalahan di
masa yang lampau, mari kita bawa negara ini mejadi negara yang lebih, lebih,
dan lebih baik dari sebelumnya.
0 komentar:
Posting Komentar