“Re, makasih ya. Bunganya cantik, aku suka“
Ucapku sambil merebahkan kepalaku di pangkuan Re, terlihat Re tersenyum
dan mengusap rambutku yang tergerai, “Sama-sama sayang, aku sangat
mencintaimu“
***
Pagi ini kepalaku terasa sangat berat, Ya Tuhan apa yang terjadi denganku. Aku berusaha memanggil mamaku tapi percuma, mulutku tak mampu lagi bersuara. Darah segar mengalir dari lubang nafasku dan kepalaku terasa sangat berat. Tak lama kemudian aku sudah tak bisa mengingat apa-apa.
Aku merasa tertidur sangat lama, hingga aku tersadar dan mendapati selang kecil di pergelangan tanganku. Mataku menyusuri seluruh ruangan ini, dimana aku? Ini bukan kamarku. Tak lama kemudian aku merasa pintu ruangan ini terbuka, samar-samar aku melihat mama. Ya itu mama, mama berjalan cepat ke arahku dan air mata tampak bergulir dari kedua bola matanya yang indah. Mama menangis, kenapa? Sejuta pertanyaan terasa menyesak di kepalaku. Rasanya kepalaku ingin meledak, seketika tubuhku mengejang. Aku tak tau apa yang terjadi pada diriku, hingga terasa sebuah jarum suntik mesuk ke dalam dagingku dan tubuhku terasa dingin, sangat dingin. Ma, aku kedinginan. Aku ingin menangis tapi air mataku tak bisa mengalir, lama kelamaan pandanganku semakin gelap. Hingga aku terlelap lagi dalam tidur yang aku tak tau sampai kapan aku akan bangun lagi.
***
Kanker? Apa itu? seumur hidup sungguh aku tak ingin mengenal kata-kata itu. Kanker, dia yang sudah merenggut nyawa papa. Dia yang sudah merenggut semua kebahagiaanku, dan sekarang penyakit itu bersarang di dalam tubuhku, tepat di kepalaku. Ya Tuhan.. Apa dosaku hingga aku mendapat penderitaan seperti ini, aku benci kanker. Aku tak ingin dia hadir sebagai teman baruku.
Seharian aku menangis, walaupun kepalaku terasa sangat sakit. Kata dokter mungkin nyawaku tinggal menghitung hari, kenapa begitu cepat aku harus pergi dari dunia ini. Apa aku tak pantas bahagia?
Beberapa minggu yang lalu, Re menyatakan cintanya padaku. Sungguh aku sangat bahagia, mungkin itu kebahagiaan pertama dalam hidupku. Dan kebahagiaan terakhir kurasa. Aku tak tahu apa yang harus ku katakan pada Re nanti.
Kini mataku tertuju pada sekuntum mawar merah yang ku letakkan di dalam gelas di atas meja belajarku. Aku bangkit dari kasurku dan duduk di depan meja belajarku. Mataku menatap lekat pada mawar itu, aku masih bisa mengingat betapa indahnya malam itu. aku masih bisa melihat senyum Re, “Re, sebentar lagi aku akan pergi“ Ucapku lirih di iringi dengan air mataku yang terjatuh. Re tidak boleh tahu tentang ini semua, Re tidak boleh tahu tentang penyakitku. Tuhan.. beri aku waktu hingga helai terakhir mawar ini terjatuh. Aku ingin bahagia sebelum aku meninggalkan dunia ini.
***
Aku terbangun dari tidurku pagi ini, sungguh aku sangat bahagia karena aku masih bisa membuka mataku. Ku lihat helai pertama kelopak bunga mawar itu mulai terjatuh. Wajahku tertunduk lesu. Aku segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan diriku. Selesai mandi aku mematut diriku di depat cermin, wajahku nampak begitu putih. Entahlah, pucat atau memang kulitku yang berwarna putih karena aku adalah keturunan chinese. Pelan ku sisir rambutku yang panjang tergerai, Ya Tuhan rambutku rontok sangat banyak. Penyakit nakal !! Dia merenggut keindahanku. Sejenak aku terdiam, kemudian aku bangkit dan menggunakan topi rajut di kepalaku. Ku lingkarkan syal warna ungun di leherku dan mulai keluar dari kamar.
“Mau kemana Chi?“ Tanya mamaku keheranan melihatku
“Mau jalan-jalan Ma, bosen di kamar terus“
Mama berjalan mendekat ke arahku dengan pandangan khawatir, “Tapi Chi...“
Belum selesai mama bicara aku sudah memotong ucapan mama, “Chilla mau keluar sama Re Ma, itu dia Re. Mama gak usah khawatir ya“ Aku mencium pipi mama dan berjalan ke arah Re.
Sudah lama aku tak berjumpa dengannya, Re tampak sangat tampan dengan setelan jeansnya, “Hai Re“ Sapaku ramah
Kemudian kami berjalan-jalan ke taman kota, kelihatannya Re sudah menangkap perubahan dariku, “Chi, tanganmu dingin banget“ Ucapnya yang kala itu sedang menggenggam telapak tanganku
“Aku kedinginan Re“ Jawabku datar
Seketika Re memeluk tubuhku erat, “Biar kamu hangat sayang“ Bisiknya lembut di telingaku, “Terimakasih Re“
***
Hari demi hari berlalu helai-helai bunga mawar itu mulai terjatuh hingga tersisa sehelai di tangkainya. Entah kenapa aku merasa ini adalah hari terakhirku di dunia ini. Aku menghubungi Re untuk bertemu malam ini. Melihat pesta kembang api di taman kota.
Malam harinya aku sudah melihat Re di depan pintu rumahku, seperti biasa aku menggunakan topi rajut untuk meutupi kepalaku yang mulai botak. Dan kami berjalan menuju taman kota. Disana aku memilih untu duduk di sebuah bangku taman yang cukup jauh dari keramaian. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Re.
“Re, lihat deh bintang di langit sana“ Kataku pada Re
“Iya sayang,indah ya. Kayak kamu“ Jawab Re sambil merangkulkan lengannya ke bahuku
“Ah, kamu gombal“ Jawabku sambil sedikit mencubit pinggangnya dengan kekuatan yang masih tersisa di tubuhku, dia tampak kesakitan dan aku hanya tertawa geli
“Re, bintang-bintang itu terkadang terlihat bersinar sangat terang dan terkadang tak nampak sama sekali karena tertutupi oleh awan. Tapi walaupun mereka tak nampak, tapi mereka tetep ada di langit dan setia menemani sang malam“
“Re, aku seperti bintang-bintang itu. ketahuilah, meskipun aku tak terlihat lagi nanti aku tetap ada disini Re. Di hatimu“ Lanjutku
Seketika Re langsung tersentak mendengar ucapanku, “Kamu jangan ngomong gitu dong Chi“ Dia menatapku begitu dlam. Aku hanya bisa tersenyum dan memeluknya erat, “Re, aku sangat mencintaimu“ Tak berselang lama kepalaku kembali terasa berat, tubuhku menggigil, dan darah segar itu mengalir dari hidungku. Perlahan pelukanku merenggang, pandanganku sudah kabur. Aku melihat Re yang begitu panik. Aku tak dapan berbuat apa-apa lagi. Sampai akhirnya seluruh pandanganku menjadi gelap.
***
Helai terakhir bunga itu telah terjatuh, hari ini aku merasa berada di sebuah tempat yang sangat indah. Disini aku bertemu dengan papa, papa mengajakku berkeliling dan aku sangat bahagia. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan papa, papa berkata padaku bahwa sebentar lagi aku akan tinggal disini. Aku mearasa sangat senang, tapi entah kenapa aku teringat pada mama, aku teringat pada Re. Air mataku meleleh. Aku belum ingin pergi meninggalkan mereka.
Setelah beberapa hari mengalami koma, akhirnya aku bisa juga membuka mataku. Ku lihat Re sedang tertidur di pinggir tempat tidurku. Aku mengusap kepalanya dan dia terbangun, “Chilla“ Dia langsung memelukku dan menangis sejadinya, “Kenapa kamu gak jujur sama aku Chi ? Kenapa kamu gak bilang kalo kamu sakit?“ Ianganku berusaha menghapus air matanya yang terjatuh, dan bibirku hanya bisa berucap dengan terbata, “Re..jangan..nangis...m..maafin..chilla...love..you..Re..” Aku berusaha tersenyum meskipun sekarang tubuhku mulai terasa kaku. Mungkin ini adalah saat aku pergi, perlahan tubuhku melemas dari kaki. Hingga aku menutup mataku dan nafasku terhenti. Saat itu juga dokter mengatakan bahwa perjalananku di dunia sudah berakhir.
Kini bunga mawar itu hanya tinggal tangkai di dalam sebuah gelas bening, Re berjalan mendekati tangaki mawar itu. Di bawahnya masih terdapat kelopak bunga yang berserakan dan mulai mengering. Re melihat sebuah amplop berwarna merah jambu. Di raihnya amplop itu dan dia mulai membaca isi di dalamnya. Tulisan yang pernah ku tulis sebelum aku meninggalakannya untuk selamanya.
Dear,
My Beloved Renal
Hi Re, ketika kamu membaca surat ini mungkin aku sudah gak bisa lagi menyeka air matamu. Maafkan aku Re buat kamu sedih. Ku harap kamu gak meangisi kepergianku. Aku ingin kamu jadi orang pertama yang tersenyum saat aku pergi nanti. Re, maafkan aku gak pernah cerita sama kamu tentang penyakitku. Aku hanya gak pengen buat kamu khawatir sama keadaanku Re. Re, makasih ya hadiah pertama yang kamu berikan untukku. Ku rasa itu juga hadiah terakhir yang aku dapatkan selama perjalananku di dunia. Terimakasih untuk bunga terakhir yang sudah kamu berikan untukku. Aku sangat menyukainya. aku mencintaimu Re
Yours,
Chilla
Setelah membaca suart itu, Re menyeka air matanya dan membawa bunga mawar yang tersisa tangkainya itu di atas tanah makam Chilla yang masih basah. Di letakkannya tangkai mawar itu di samping batu nisan Chilla, “Chi, lihat nih aku tersenyum aku gak nangis. Chi, maafin aku gak bisa jagain kamu, aku pengen kamu bawa bunga mawar ini bersamamu sebagai hadiah terakhir dariku. Aku sangat mencintaimu Chi“
TAMAT
***
Pagi ini kepalaku terasa sangat berat, Ya Tuhan apa yang terjadi denganku. Aku berusaha memanggil mamaku tapi percuma, mulutku tak mampu lagi bersuara. Darah segar mengalir dari lubang nafasku dan kepalaku terasa sangat berat. Tak lama kemudian aku sudah tak bisa mengingat apa-apa.
Aku merasa tertidur sangat lama, hingga aku tersadar dan mendapati selang kecil di pergelangan tanganku. Mataku menyusuri seluruh ruangan ini, dimana aku? Ini bukan kamarku. Tak lama kemudian aku merasa pintu ruangan ini terbuka, samar-samar aku melihat mama. Ya itu mama, mama berjalan cepat ke arahku dan air mata tampak bergulir dari kedua bola matanya yang indah. Mama menangis, kenapa? Sejuta pertanyaan terasa menyesak di kepalaku. Rasanya kepalaku ingin meledak, seketika tubuhku mengejang. Aku tak tau apa yang terjadi pada diriku, hingga terasa sebuah jarum suntik mesuk ke dalam dagingku dan tubuhku terasa dingin, sangat dingin. Ma, aku kedinginan. Aku ingin menangis tapi air mataku tak bisa mengalir, lama kelamaan pandanganku semakin gelap. Hingga aku terlelap lagi dalam tidur yang aku tak tau sampai kapan aku akan bangun lagi.
***
Kanker? Apa itu? seumur hidup sungguh aku tak ingin mengenal kata-kata itu. Kanker, dia yang sudah merenggut nyawa papa. Dia yang sudah merenggut semua kebahagiaanku, dan sekarang penyakit itu bersarang di dalam tubuhku, tepat di kepalaku. Ya Tuhan.. Apa dosaku hingga aku mendapat penderitaan seperti ini, aku benci kanker. Aku tak ingin dia hadir sebagai teman baruku.
Seharian aku menangis, walaupun kepalaku terasa sangat sakit. Kata dokter mungkin nyawaku tinggal menghitung hari, kenapa begitu cepat aku harus pergi dari dunia ini. Apa aku tak pantas bahagia?
Beberapa minggu yang lalu, Re menyatakan cintanya padaku. Sungguh aku sangat bahagia, mungkin itu kebahagiaan pertama dalam hidupku. Dan kebahagiaan terakhir kurasa. Aku tak tahu apa yang harus ku katakan pada Re nanti.
Kini mataku tertuju pada sekuntum mawar merah yang ku letakkan di dalam gelas di atas meja belajarku. Aku bangkit dari kasurku dan duduk di depan meja belajarku. Mataku menatap lekat pada mawar itu, aku masih bisa mengingat betapa indahnya malam itu. aku masih bisa melihat senyum Re, “Re, sebentar lagi aku akan pergi“ Ucapku lirih di iringi dengan air mataku yang terjatuh. Re tidak boleh tahu tentang ini semua, Re tidak boleh tahu tentang penyakitku. Tuhan.. beri aku waktu hingga helai terakhir mawar ini terjatuh. Aku ingin bahagia sebelum aku meninggalkan dunia ini.
***
Aku terbangun dari tidurku pagi ini, sungguh aku sangat bahagia karena aku masih bisa membuka mataku. Ku lihat helai pertama kelopak bunga mawar itu mulai terjatuh. Wajahku tertunduk lesu. Aku segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan diriku. Selesai mandi aku mematut diriku di depat cermin, wajahku nampak begitu putih. Entahlah, pucat atau memang kulitku yang berwarna putih karena aku adalah keturunan chinese. Pelan ku sisir rambutku yang panjang tergerai, Ya Tuhan rambutku rontok sangat banyak. Penyakit nakal !! Dia merenggut keindahanku. Sejenak aku terdiam, kemudian aku bangkit dan menggunakan topi rajut di kepalaku. Ku lingkarkan syal warna ungun di leherku dan mulai keluar dari kamar.
“Mau kemana Chi?“ Tanya mamaku keheranan melihatku
“Mau jalan-jalan Ma, bosen di kamar terus“
Mama berjalan mendekat ke arahku dengan pandangan khawatir, “Tapi Chi...“
Belum selesai mama bicara aku sudah memotong ucapan mama, “Chilla mau keluar sama Re Ma, itu dia Re. Mama gak usah khawatir ya“ Aku mencium pipi mama dan berjalan ke arah Re.
Sudah lama aku tak berjumpa dengannya, Re tampak sangat tampan dengan setelan jeansnya, “Hai Re“ Sapaku ramah
Kemudian kami berjalan-jalan ke taman kota, kelihatannya Re sudah menangkap perubahan dariku, “Chi, tanganmu dingin banget“ Ucapnya yang kala itu sedang menggenggam telapak tanganku
“Aku kedinginan Re“ Jawabku datar
Seketika Re memeluk tubuhku erat, “Biar kamu hangat sayang“ Bisiknya lembut di telingaku, “Terimakasih Re“
***
Hari demi hari berlalu helai-helai bunga mawar itu mulai terjatuh hingga tersisa sehelai di tangkainya. Entah kenapa aku merasa ini adalah hari terakhirku di dunia ini. Aku menghubungi Re untuk bertemu malam ini. Melihat pesta kembang api di taman kota.
Malam harinya aku sudah melihat Re di depan pintu rumahku, seperti biasa aku menggunakan topi rajut untuk meutupi kepalaku yang mulai botak. Dan kami berjalan menuju taman kota. Disana aku memilih untu duduk di sebuah bangku taman yang cukup jauh dari keramaian. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Re.
“Re, lihat deh bintang di langit sana“ Kataku pada Re
“Iya sayang,indah ya. Kayak kamu“ Jawab Re sambil merangkulkan lengannya ke bahuku
“Ah, kamu gombal“ Jawabku sambil sedikit mencubit pinggangnya dengan kekuatan yang masih tersisa di tubuhku, dia tampak kesakitan dan aku hanya tertawa geli
“Re, bintang-bintang itu terkadang terlihat bersinar sangat terang dan terkadang tak nampak sama sekali karena tertutupi oleh awan. Tapi walaupun mereka tak nampak, tapi mereka tetep ada di langit dan setia menemani sang malam“
“Re, aku seperti bintang-bintang itu. ketahuilah, meskipun aku tak terlihat lagi nanti aku tetap ada disini Re. Di hatimu“ Lanjutku
Seketika Re langsung tersentak mendengar ucapanku, “Kamu jangan ngomong gitu dong Chi“ Dia menatapku begitu dlam. Aku hanya bisa tersenyum dan memeluknya erat, “Re, aku sangat mencintaimu“ Tak berselang lama kepalaku kembali terasa berat, tubuhku menggigil, dan darah segar itu mengalir dari hidungku. Perlahan pelukanku merenggang, pandanganku sudah kabur. Aku melihat Re yang begitu panik. Aku tak dapan berbuat apa-apa lagi. Sampai akhirnya seluruh pandanganku menjadi gelap.
***
Helai terakhir bunga itu telah terjatuh, hari ini aku merasa berada di sebuah tempat yang sangat indah. Disini aku bertemu dengan papa, papa mengajakku berkeliling dan aku sangat bahagia. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan papa, papa berkata padaku bahwa sebentar lagi aku akan tinggal disini. Aku mearasa sangat senang, tapi entah kenapa aku teringat pada mama, aku teringat pada Re. Air mataku meleleh. Aku belum ingin pergi meninggalkan mereka.
Setelah beberapa hari mengalami koma, akhirnya aku bisa juga membuka mataku. Ku lihat Re sedang tertidur di pinggir tempat tidurku. Aku mengusap kepalanya dan dia terbangun, “Chilla“ Dia langsung memelukku dan menangis sejadinya, “Kenapa kamu gak jujur sama aku Chi ? Kenapa kamu gak bilang kalo kamu sakit?“ Ianganku berusaha menghapus air matanya yang terjatuh, dan bibirku hanya bisa berucap dengan terbata, “Re..jangan..nangis...m..maafin..chilla...love..you..Re..” Aku berusaha tersenyum meskipun sekarang tubuhku mulai terasa kaku. Mungkin ini adalah saat aku pergi, perlahan tubuhku melemas dari kaki. Hingga aku menutup mataku dan nafasku terhenti. Saat itu juga dokter mengatakan bahwa perjalananku di dunia sudah berakhir.
Kini bunga mawar itu hanya tinggal tangkai di dalam sebuah gelas bening, Re berjalan mendekati tangaki mawar itu. Di bawahnya masih terdapat kelopak bunga yang berserakan dan mulai mengering. Re melihat sebuah amplop berwarna merah jambu. Di raihnya amplop itu dan dia mulai membaca isi di dalamnya. Tulisan yang pernah ku tulis sebelum aku meninggalakannya untuk selamanya.
Dear,
My Beloved Renal
Hi Re, ketika kamu membaca surat ini mungkin aku sudah gak bisa lagi menyeka air matamu. Maafkan aku Re buat kamu sedih. Ku harap kamu gak meangisi kepergianku. Aku ingin kamu jadi orang pertama yang tersenyum saat aku pergi nanti. Re, maafkan aku gak pernah cerita sama kamu tentang penyakitku. Aku hanya gak pengen buat kamu khawatir sama keadaanku Re. Re, makasih ya hadiah pertama yang kamu berikan untukku. Ku rasa itu juga hadiah terakhir yang aku dapatkan selama perjalananku di dunia. Terimakasih untuk bunga terakhir yang sudah kamu berikan untukku. Aku sangat menyukainya. aku mencintaimu Re
Yours,
Chilla
Setelah membaca suart itu, Re menyeka air matanya dan membawa bunga mawar yang tersisa tangkainya itu di atas tanah makam Chilla yang masih basah. Di letakkannya tangkai mawar itu di samping batu nisan Chilla, “Chi, lihat nih aku tersenyum aku gak nangis. Chi, maafin aku gak bisa jagain kamu, aku pengen kamu bawa bunga mawar ini bersamamu sebagai hadiah terakhir dariku. Aku sangat mencintaimu Chi“
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar